Masa Lalu Yang Dipelajari

akhir-akhir ini entah kenapa saya sering mengoreksi diri dari masa lampau yang pernah saya lalui sebelumnya. untuk sesuatu yang saya pikirkan dalam kenangan yang berbuah pengalaman.
 
layaknya manusia biasa, saya pernah jatuh bangun dalam hal 'percintaan',
entah ada apa saya sampai-sampai memikirkan hal ini, padahal urusan sedang banyak-banyaknya.

disekian yang pernah menjalin cinta dengan saya cukup berakhir tidak baik.
saya tidak bisa menyebutkan nama disini, biarlah itu urusan yang sudah mengetahui. namun setelah berakhir sampai saat ini masih dalam temanan yang baik-baik saja.

dulu saya mengibaratkan cinta bisa kadaluarsa, saya pernah merasakan ketika masa 'putus' lalu 'galau' kemudian 'berharap kembali' dan 'mengenang', sampai perasaan yang tadinya sangat mencintai kini berubah drastis menjadi 'biasa saja', tentu saya bertanya-tanya dan jawabannya adalah: saya terlalu mencintai ketika itu.

saya koreksi, saya salah (untuk pribadi saya sendiri)
 
bagaimana mungkin yang statusnya masih hanya sekedar 'pacaran' dalam hitungan jari bisa sangat cinta, pernyataan seperti ini yang saya kurang sukai.
saya bukannya tidak mensyukuri tapi akal sehat yang diberikan oleh sang pencipta haruslah berjalan dengan nalar dan sejak itu saya berubah drastis tidak untuk mencintai secara berlebih, biarlah orang diluar sana menilai, biar ini urusan saya dengan Tuhan.

jatuh bangun dalam hubungan sudah biasa terdengar, hal yang paling saya ingat betul ketika 'diputusi' ketika saya menjalin hubungan dengan seseorang.
dari putus karena tidak direstui oleh orang tua, putus karena bosan, putus karena tidak ada hati, putus karena diselingkuhi (orang ketiga), putus karena ada yang ingin ber-ta'aruf, putus karena jarak kediaman yang sama-sama jauh, putus karena ada yang balik lagi ke masa lampaunya, dari itu semua saya pernah merasakan alasan-alasan penyebab harus diakhirinya sebuah hubungan, jujur saya terlalu sering diputuskan oleh beberapa orang dan saya lebih suka seperti itu, karena bagi saya nantinya tidak ada rasa penyesalan yang sangat mendalam ketika saya diputusi, bahkan saya termotivasi untuk lebih baik lagi entah dalam akademik maupun karir.

"ada yang ingin saya bahas dalam suatu cerita dalam percintaan ketika itu, anggap ini sebuah contoh yang konkret (yang saya alami), singkat saja saat itu kami berpacaran tidak lama, hanya beberapa bulan dan tentunya saya tidak mencintainya secara berlebih, begitu pun ia. ketika tidak ada permasalahan apa-apa saat itu ia menghubungi saya ingin bertemu disuatu tempat ngopi pada malam hari dan berkata ada hal yang ingin dibicarakan. tanpa ambil pusing, feeling saya mengatakan bahwa ia ingin mengakhiri sebuah hubungan dan sesampai di tempat ngopi ia sudah datang lebih dulu, duduk dikursi sambil tersenyum melihat ke arah saya, lalu kami duduk berhadapan ditemani 2 gelas kopi yang dingin dan perbincangan dimulai, kemudian benar saja, ia menjelaskan kepada saya dari A - Z dan saya menyimak, meresapi kalimat per kalimat kemudian saya paham, lalu saya menerima dengan lapang dada walaupun saat itu ingin mempertahankan namun saya berfikir lagi dalam keputusan saya dengan menerima apa yang ia mau yaitu berakhir, nyatanya saya menuruti apa yang ia mau."

setelahnya, saya biasa saja namun terkadang pernah terpikirkan walaupun hanya sesaat saja. mungkin benar, saya telah bisa menerima sebuah pembelajaran yang pernah saya alami dari ini semua, saya merasa sebuah permasalahanlah yang membuat saya kebal akan hal seperti ini hingga mampu berdiri dengan kokoh tanpa harus runtuh.

saya hanya ingin berkata:
terima kasih kepada siapapun mungkin yang pernah saya sakiti (maaf, saya tidak pernah ada maksud) atau bahkan yang pernah menyakiti saya, karena berkat anda dan sebuah permasalahan yang ada, saya menjadi tau bahwa diri ini terlalu berarti dan dewasa yang memilih saya untuk menghadapi ini semua dan saya tidak pernah menyesal apa yang telah Tuhan berikan, karena saya selalu mensyukuri apapun yang terjadi, biarlah ini akan menjadi sebuah cerita dikemudian hari dan sampai rindu yang akan bercerita betapa mengesankannya ketika itu.
-
-
Bia - 24 Agustus 2016 | 22:41 WIB

Tidak ada komentar:

Posting Komentar