Merasa

kerap beberapa kali kamu dan saya duduk berdua dengan berhadapan,
menceritakan apa yang ingin dituangkan,
ditemani dengan segelas teh hangat atau susu jahe
dan tentunya dipisahkan dengan meja.

berbicara dengan semaunya,
memberanikan diri untuk bilang bahawa ada hal yang ingin saya sampaikan,
dengan langkah yang kamu ambil, nyatanya kamu menolak,
kemudian saya terdiam.

maksud ingin memperbaiki dan memperjelas,
namun rasa ego mengalahi segalanya,
kamu bersikukuh untuk tetap tinggal,
saya maklumi.

entah sampai kapan hingga kamu mengerti,
mengerti apa yang saya rasa,
ketika saya menanyakan kembali,
kamu selalu terdiam dan melihat nanti.

keputusan yang tak sebanding dan tak searah,
blur, saya anggap ini abu-abu.
berkeluh kesah dengan siapapun rasanya sulit,
bermain dengan rasa yang tak kunjung dirasa.

Bia | 3 September 2017 | 00:43 WIB

Menyikapi

apa yang membuat kamu segan menyapa saya?
apa yang membuat kamu malas bercengkrama dengan saya?
apa yang membuat kamu sedih dengan saya?
apa yang membuat kamu marah dengan saya?

ya, kamu berhak. kamu manusia yang mempunyai hati, namun kamu melihat saya tidak.
kamu terbuai dengan keinginan yang ada diego kamu, hingga lupa antara saya dan kamu.
kamu berhak dalam hal papun, mungkin kamu belum mengerti bagaimana saya bersikap.
kamu belum memahami apa yang saya maksud selama ini.

kecewa itu pasti, semua manusia dapat merasakan kecewa.
kali ini saya diam, tak banyak langkah ataupun bicara.
beribu kalimat yang kamu lontarkan, akan tetap saya resapi hanya untuk diri saya sendiri
tidak untuk didebati.

biarkan saya menjadi seorang yang kamu benci
tak usah mengingat segala kebaikan yang pernah ada, karena saya tidak pernah meminta.
nyatanya satu kesalahan merubah segalanya.
saya rasa cukup untuk diketahui.

biarkan kamu berandai dengan segala cara
saya hanya dapat melihat dan berdo'a
setidaknya saya sudah pernah berbuat cara dengan sebaik-baiknya
maaf, saat ini saya terlalu lelah.

biarkan lelah menjadi penasihat
dan semua menjadi obat disaat yang tepat.
-
Bia | 3 September 2017 | 00:12 WIB

Idul Adha 2017

mengawali dengan niat dan yakin bahwa saya mampu.
ya, itulah motivasi saya untuk terus bergerak, satu per satu niat dan tujuan saya terpenuhi bahkan lebih tepatnya tercapai

sejak dari dulu keinginan saya untuk ber-qurban di Idul Adha dengan uang jajan sendiri sudah lama ada, namun terkendala dengan faktor jaman saya masih anak sekolahan yang ngga punya uang lebih, maklum anak sekolahan uangnya ngga banyak tapi suka boros, apalagi jaman kuliah, sangat boros untuk keperluan ini itu.

sebenarnya Ibu & Bapak sudah pernah membeli hewan qurban atas nama saya, tapi waktu itu dibeli dengan uang mereka, kali ini tekad saya yang sudah berpenghasilan cukup ingin rasanya berbagi dan merasakan ber-qurban dengan jerih payah saya sendiri ini.

yap! saya mengikuti program tabungan ber-qurban disalah satu satu teman saya. Dengan nama programnya Q-Life, jadi ibaratnya saya dapat menabung hingga tenggat waktu yang saya inginkan, tentu saya mengikuti program ini di awal Maret 2017 dan Alhamdulillah selesai tepat waktu dibulan September 2017 dengan seekor kambing warna cokelat :)

kenapa saya ber-qurban (lagi) padahal Ibu & Bapak saya jelas sudah pernah ber-qurban atas nama saya pada tahun sebelumnya? jawabannya simple.. seberapa pun penghasilan saya yang saat ini sudah mempunyai pekerjaan, untuk niat bersedekah kepada sesama dan merasakan berbagi dengan jerih payah saya sendiri ngga ada salahnya, berbagi dengan sesama sangatlah senang bagi saya karena dapat membantu mereka, tentunya saya juga ingin semua seimbang.

hal kecil menjadi hal yang besar, pengalaman selalu mengajarkan untuk menanamkan nilai untuk dimasa depan. semoga senantiasa masih diberikan rezeki yang cukup dan terima kasih atas segala hal yang telah diizinkan :)

si Kambing Coklat! detik-detik mau dipotong :(
-
Bia | 2 September 2017 | 23:47 WIB