Ketika Sakit Menjadi Penasihat

bulan September 2016, menjadi euforia buat saya. karena dibulan tersebut, saya resmi Wisuda menjadi seorang sarjana. yah.. moment yang ditunggu-tunggu setelah 6 bulan menunggu untuk segera menggeser tali toga. bukan maksud untuk terburu-buru, tapi rasanya ingin cepat selesai dari ranah Kampus yang katanya Hijau.

setelah itu saya senang dan merasa sangat lepas.

masuk dibulan Oktober 2016, menjadi hal yang saya herankan, mencoba waspada dan mencegah. singkat cerita, ketika itu ada acara keluarga hingga larut malam, saya ikut berpartisipasi. nyatanya, ketika itu saya masih sangat sehat, hanya saja lelah dan kelopak mata ngga bisa dibohongin kalau memang lagi lelah dan kantuk pun melanda. keesokannya harinya, saya bangun tidur disertai dengan badan pegal, kepala pusing, pandangan sedikit buyar. saya mencoba untuk berkaca dicermin kamar, ternyata wajah sedikit pucat, namun saya cuek. ketika siang hari, saya meraba area jidat sebelah kanan, ternyata ada sedikit bercak seperti cacar, saya masih cuek, karena saya fikir itu hanya jerawat yang datang karena sedang lelah.

ah nyatanya saya salah menduga, setelah masuk beberapa minggu, bercak diarea jidat semakin memburuk. malam, dengan inisiatifnya saya dan Ayah saya pergi ke Klinik terdekat dari rumah. ketika sampai di Klinik, dokter sudah memprediksi kalau saya kena penyakit Herpes Zoster area jidat. entah ketika itu dokter ngga menjelaskan secara panjang, ia sangat buru-buru untuk segera menuliskan resep obatnya. dokter hanya bilang kalau sakit yang saya rasakan ini dari virus dan metabolisme tubuh saya yang sedang lemah. setelah tau saya sakit apa, akhirnya kedua orang tua saya menasehati diri saya untuk tidak berpergian keluar rumah, tidak mencari pekerjaan, dan tidak boleh stres.

dan saya menuruti sambil santai.

2 minggu saya berdiam diri dirumah untuk istirahat dan memang ngga terlalu banyak teman-teman yang tau kalau nyatanya sedang kena penyakit. karena, sangat kurang pantas apabila sedang sakit terlalu banyak di expose.

lanjut cerita, sudah masuk sebulan masih dibulan Oktober 2016, nyatanya virus itu membuat mata saya bengkak hanya dibagian kanan. menutupi bagian kelopak mata hingga saya ngga bisa untuk melihat secara luas. area jidat pun semakin memburuk. pada akhirnya Kakak saya menyuruh untuk ke Rumah Sakit secepatnya, ia bilang kalau virus tersebut bisa membuat penglihatan buyar (buta) *kebetulan Kakak saya berprofesi seorang tenaga medis, jadi ia tau*. tanpa ambil pusing, karena kedua orang tua sangat ketakutan, akhirnya dibawa ke Rumah Sakit. saya ingat betul, saya didaftarkan ke bagian spesialis Syaraf hingga spesialis Kulit dan Kelamin. sebenarnya saat itu saya merasa sedih , bukan sedih karena penyakit yang diderita. saya sedih karena terlalu merepotkan orang tua dan menjadi beban pikiran mereka.

setelahnya, seperti biasa saya diperiksa seorang dokter, selama kurang lebih 1 jam diperiksa, dokter mendiagnosa bahwa virus tersebut belum terlalu berat, namun kalau metabolisme saya turun lagi, bisa jadi was-was. dari situ baru terlihat, ternyata virus itu pun bermain diarea kepala sebelah kanan saya, saya baru mengetahui efek virus itu menempel di area kulit kepala sebelah kanan, akhirnya diagnosa dokter muncul lagi kalau akan Radang Otak (Ensefalitis)

saya menolak untuk CT Scan. karena saya masih merasa kuat untuk berfikir dan mengingat. saya memilih untuk bedrest lagi selama sebulan penuh (November) saya tidak menjalankan aktivitas yang berat, 11 jenis obat non-stop saya minum per 3 jam dalam sehari. perban diarea kepala ngga pernah lepas kalau memang ingin keluar bersama orang tua.

dari sakit tersebut saya mengevaluasi diri saya sendiri,
mungkin adanya penyakit ini, Allah ingin mendekatkan saya ke orang tua. karena setelah saya fikir, dulu saya sangat sibuk mengurusi urusan sana-sini, telat pulang kerumah karena ada hal yang belum terselesaikan dan Allah sedang menegur saya.

mungkin kemarin saya lupa untuk bersyukur dan terlalu senang, hingga pada saatnya diberikan suatu penyakit yang ngga terduga sebelumnya.

saya tidak menganggap sakit menjadi sebuah beban,
karena saya percaya, ketika saya diberikan sakit maka Allah masih sayang dengan umat-Nya.
mungkin kalau kata kebanyakan orang, ketika dikasih suatu sakit maka bersyukurlah.. karena saat disitulah dosa-dosa akan diangkat *semoga, Aamiin Allahuma Aamiin.

dari rasa sakit pula, saya menjadi lebih tersadarkan bahwa mana orang yang benar-benar peduli dan mana yang hanya sekedar ingin tau.

setelah bedrest selama kurang lebih 2 bulan, seiring berjalannya waktu virus itu semakin menurun walaupun ngga sepenuhnya menghilang, karena menurut dokter bisa muncul lagi sewaktu-waktu, tapi saya selalu positif untuk tetap sehat. disaat metabolisme tubuh saya kembali sehat walaupun pada bagian area kepala belum sepenuhnya sehat, saya mencoba untuk berteman kembali kepada sebuah aktifitas. disitu saya mencoba untuk membiasakan kembali beraktifitas seperti layaknya orang-orang diluar sana, walaupun sedikit malu karena area jidat masih diperban.

jadi, buat saya untuk masa-masa tersebut selalu dijadikan pembelajaran dan selalu berhati-hati. nyatanya ketika saya sakit pun banyak merepotkan beberapa pihak, tapi tak apa saya menjadi mengerti dan mendalami proses kehidupan yang sebenarnya. ketika sakit maka silakan untuk berfikir positif untuk sembuh walaupun hanya beberapa persen saja untuk sembuh, namun setidaknya kita mensyukuri sesuatu yang telah Allah berikan, untuk hasilnya biarlah Allah yang membalas.
-
Bia - 02 Mei 2017 | 00:09 WIB
Bersama Lantunan Musik di Speaker: Isyana Sarasvati - Tetap Dalam Jiwa

Susah Senang Bekerja

lama tak bersua untuk bercerita disini, tempat saya bisa mengungkapkan segala rasa yang saya punya, namun nyatanya tak semua bisa saya selalu share disini. nah loh bingung ya? haha. untuk tulisan kali ini, saya ngga ingin terlalu serius-serius banget ataupun baku. tapi selebihnya biar kalian yang menilai saja ya.

rasanya ingin saya ceritakan beberapa kisah saya saat ini, tapi sepertinya ngga bakalan cukup sih untuk bercerita banyak, tangan pasti pegel banget haha.

jadi, saya ingin mengucap Alhamdulillah, segala puji bagi Allah S.W.T.
tenang, saya bukan bermaksud agamis banget, tapi sebagai umat-Nya, saya sangat bersyukur saat ini.

mencoba flashback sedikit,
pada bulan September 2016 lalu, saya resmi menjadi seorang sarjana, karena pada bulan september saya Wisuda Kampus, setelah berbulan-bulan menunggu janji dari pihak kampus. sebenarnya saya lulus di bulan Maret 2016, tapi karena kebijakan kampus yg mengharuskan ikut Wisuda di bulan September, jadi saya turuti (sumpah, nunggu lama banget), lalu kemana saya dari Maret - September? hm.. saya mencari pekerjaan tanpa ada SKL ataupun Ijazah, modal nekat dan modal positif. jujur saja, saya paling ngga betah diem-diem doang tanpa ada yang harus dikerjakan. Alhamdulillah-nya, saya diberi kesempatan untuk bekerja ditempat saya Magang ketika itu. dapat panggilan dari SPV dan Manager-nya langsung, ah senang banget rasanya bisa dipercayai lagi. singkat cerita, setelah September akan Wisuda, saya resign (mengundurkan diri) dari tempat kerja saya itu.

tak disangka, sangat sulit ketika saya mencoba mencari pekerjaan baru. interview sana-sini tapi kok ngga dipanggil-panggil, dari arah barat, timur, selatan, ke utara hahaha berlebihan tapi "sure". setelahnya ambisi saya terus meningkat, minimal sebelum pergantian tahun menjadi tahun 2017, saya mendapatkan pekerjaan deh.

satu kalimat yang selalu membangkitkan semangat saya: hidup itu harus ada targetnyaini bener banget! emang pada mau hidup tanpa target? banyak yang bilang "santai", duh ngalir banget sih itu namanya. disaat kalian berfikir untuk mengalir dan berharap  ada keajaiban datang ini itu, yah udah keduluan orang-orang disana yang lagi on fire.

oke, balik lagi ke pembahasan saya.
akhirnya di Desember 2016, saya mendapatkan pekerjaan disalah satu perusahaan E-Commerce, big thanks to Allah, karena sebelum Desember, saya sempat sakit selama kurang lebih 2 bulan (Oktober - November) yang dimana saya harus bedrest banget di rumah, minum 11 obat sekaligus dalam sehari, (untuk cerita ini akan saya ceritakan di Blog berikutnya)

YA! dan nyatanya saat ini saya sudah bekerja, walaupun memang jarak Rumah ke Kantor lumayan jauh. tapi buat saya, selagi masih ada kendaraan dan transportasi umum yang terjangkau, saya fikir ngga jadi masalah, berhubung tipikal saya yang sebenarnya sangat suka berpetualang *pede banget*

masuk dibulan Maret 2017, saya dinyatakan lolos probation. ohya, sebelum resmi jadi karyawan, jadi ada masa probation selama 3 bulan (Desember - Maret), sebenarnya senang standart sih, tapi tetep bersyukur hehehe.

hari demi hari, layaknya seorang para pekerja yang lain, saya sangat menikmati sekali masa-masa bekerja saya. entah.. saya sangat senang bekerja, bukan melulu soal sibuk, namun saya banyak mendapatkan pengalaman, teman, link, dan berbagi cerita.

"lalu saat ini apa yang lagi disibukin Bi?"
ini nih sebenarnya pertanyaan paling umum dan bingung mau jawab apa, haha. karena ngga semua orang bisa mengerti apa yang sedang kita rasa, kadang ada orang yang hanya ingin tau aja alias kepo banget, atau ada orang yang memang lagi peduli. 

jawab disini agak umum memang, cuman saya akan menjelaskan sedikit demi sedikit. jadi.. selain sebagai karyawan disebuah perusahaan, saya terlibat sebagai Content Writer (freelancer just 2 months) disebuah platform yang dibilag masih baru, tenang.. bukan maksud serakah, saya hanya ingin mengembangkan passion, hobi, dan kualitas saya dalam menulis kok. so far ngga terlalu menggangu jam kerja saya juga, karena bekerjanya bisa dari mana aja namun memang terkadang suka panik duluan kalau udah ada dateline. kemudian, saat ini juga terlibat dalam project kantor saya bekerja, semacam project majalah kantor dan saya andil dalam Writer, saat ini masih on going namun hanya sampai bulan Juli saja.

"lo ngga capek Bi?"
ngga pake ditanya, saya rasa kayaknya udah tau jawabannyaa, pasti capek yang namanya melakukan aktifitas jiwa dan raga. tapi disaat saya merasa sangat capek, saya selalu melihat kedua orang tua saya yang selama ini sudah rela demi seorang anaknya, yah pasti kalian tau sendiri gimana rasanya menjadi orang tua.

"so, i'm happy for now."
selalu bersyukur apa yang sudah Allah berikan ke saya, kesempatan ngga datang dua kali, namun kesempatan bisa dijaga dan dikembangkan selagi kita mau mencoba dan berusaha. mungkin banyak yang memandang saya A atau B, tapi inilah kehidupan saya, lagi seru-serunya *wahana Dufan kali seru*.

--

Bia - 01 Mei 2017 | 17:12 WIB
di Tempat Makan One Bell Park bersama adik tercinta.

5 Oktober 2016; 03.00 WIB

tidak lain tidak bukan,
saya adalah tipikal wanita yang tidak terlalu suka akan banyak bicara.
bukan tipikal wanita yang pandai banyak cerita tentang seseorang.

namun saya memiliki suatu pandangan untuk suatu sisi orang lain.
saya mengamati dengan cara saya sendiri, namun tidak berlebih.

mungkin benar kata pepatah, sabar ada batasnya.
ya, rasa sabar saya hampir saja habis dengan segala sesuatu yang menurut saya tidak penting.
sekali lagi, saya sangat berterima kasih telah menguji kesabaran ini.

saya hanya ingin mengatakan ;
siapapun yang pernah saya kenal, maka izinkan saya untuk berkeluh kesah dikertas elektronik ini. saya hanya ingin meluruskan dan apabila anda pernah beropini tentang saya maka izinkan saya disini untuk beropini untuk anda.

saya hanya ingin meminta maaf kepada orang yang mungkin pernah saya sakiti secara tidak sengaja, maaf saya tidak pernah mau menyakiti hati seseorang, karena saya diajarkan oleh orang tua saya sendiri bagaimana toleransi berjalan dengan cara menghargai sesama.

saya tidak dendam sekali pun kepada orang, walaupun orang itu jahat, saya hanya 'segan'.
mungkin anda boleh mencari tahu tentang saya, namun jangan pernah sesekali mengusik sebuah kehidupan keluarga saya.
-
Bia - 05 Oktober 2016 | 03:00 WIB