kerap beberapa kali kamu dan saya duduk berdua dengan berhadapan,
menceritakan apa yang ingin dituangkan,
ditemani dengan segelas teh hangat atau susu jahe
dan tentunya dipisahkan dengan meja.
berbicara dengan semaunya,
memberanikan diri untuk bilang bahawa ada hal yang ingin saya sampaikan,
dengan langkah yang kamu ambil, nyatanya kamu menolak,
kemudian saya terdiam.
maksud ingin memperbaiki dan memperjelas,
namun rasa ego mengalahi segalanya,
kamu bersikukuh untuk tetap tinggal,
saya maklumi.
entah sampai kapan hingga kamu mengerti,
mengerti apa yang saya rasa,
ketika saya menanyakan kembali,
kamu selalu terdiam dan melihat nanti.
keputusan yang tak sebanding dan tak searah,
blur, saya anggap ini abu-abu.
berkeluh kesah dengan siapapun rasanya sulit,
bermain dengan rasa yang tak kunjung dirasa.
-
© B | 3 September 2017 | 00:43 WIB
Tidak ada komentar:
Posting Komentar