Payah

payah, itulah kalimat pertama saya yg dilontarkan kepada diri sendiri di dalam hati.

satu per satu target yang saya rencanakan berjalan sesuai harapan. senang rasanya karena yang saya targetkan berhubungan dengan kedua orang tua.

kali ini bukan bercerita tentang ambisi, pencapaian target, tahta atau gelar, bukan.
ini masalah perasaan, anggap saja asmara.

seperti bait pertama saya, dengan jelas saya melampirkan kata ‘payah’. sial, ternyata dalam hal ini masih lemah. bahwa untuk saat ini saya terlalu banyak mengabaikan masalah perasaan sampai-sampai diri ini tidak terlalu peka.

memang langah saya salah karena menghindari bukan menghadapi. ketika menghindari ternyata semakin menjadi-jadi.

payah dan lemah adalah bahwa saya sampai sekarang tidak bisa menatap mata lawan jenis berlama-lama sampai sekarang.

yang saya takuti adalah ketika perasaan ini baru muncul seketika untuk seseorang, tetapi seseorang tersebut tidak akan menanggapinya lagi karena ia sudah terlalu lelah menunggu.

saya tidak pernah membuat janji kepada seseorang untuk menunggu, tidak.
saya hanya mempersiapkan diri ketika saya sudah siap bukan merasa sepi.
lagi pula masalah janji menurut saya ketika berada disuatu janji suci yang sah.
tapi pada dasarnya memang saya payah, melewatkan ini semua karena terlalu takut.
sangat berharap semoga saya tidak terlalu takut untuk mengatakannya atau menatapnya.
- 
Bia - 12 Januari 2016 | 23:16 WIB

Tidak ada komentar:

Posting Komentar